Senin, 25 November 2013

Statistika Nonparametrik

Istilah nonparametrik sendiri pertama kali digunakan oleh Wolfowitz, 1942. Istilah lain yang sering digunakan antara lain distribution-free statistics dan assumption-free test. Berdasarkan istilah-istilah ini, dengan mudah disimpulkan  bahwa metode statistik nonparametrik merupakan metode statistik yang dapat digunakan dengan mengabaikan segala asumsi yang melandasi metode statistik parametrik, terutama yang berkaitan dengan distribusi normal. Metode pengujian ini digunakan bila salah satu parameter statistik parametrik tidak terpenuhi.
Kelebihan Uji Non Parametrik: 
·           Perhitungan sederhana dan cepat
·           Data dapat berupa data kualitatif (Nominal atau Ordinal)
·           Distribusi data tidak harus Normal
Kelemahan Uji Non Parametrik:
·           Tidak memanfaatkan semua informasi dari sampel (Tidak efisien)
Kelemahan uji nonparametric dapat diperbaiki dengan menambah ukuran sampel.
TUJUAN
JENIS DATA
Pengukuran dari populasi Gaussian
Skala ordinal atau pengukuran Non Gaussian
Binomial
Deskripsi satu kelompok
Mean, SD
Median, interquartile range
Proportion
Membandingkan satu kelompok dengan nilai hipotetis
One-sample t test
Wilcoxon test
Chi-square
atau
Binomial test
Membandingkan dua kelompok tidak berpasangan
Unpaired t test
Mann-Whitney test
Fisher's test
(chi-square untuk sampel besar)
Membandingkan dua kelompok berpasangan
Paired t test
Wilcoxon test
McNemar's test
Membandingkan lebih dari dua kelompok tidak berpasangan
One-way ANOVA
Kruskal-Wallis test
Chi-square test
Membandingkan lebih dari dua kelompok berpasangan
Repeated-measures ANOVA
Friedman test
Cochrane Q
Korelasi
Pearson correlation
Spearman RANK correlation
Contingency coefficients
Prediksi dengan pengukuran variabel lain
Simple linear regression
or
Nonlinear regression
Nonparametric regression
Simple logistic regression
Prediksi dari beberapa pengukuran atau variabel binomial
Multiple linear regression or
Multiple nonlinear regression
Multiple logistic regression

1.                 Uji Tanda (Sign Test)
Uji tanda adalah uji nonparametrik yang digunakan pada situasi dimana data tidak dianggap normal atau datanya bersifat ordinal. Asumsinya adalah distribusinya bersifat binomial. Binomial artinya dua nilai. Nilai ini dilambangkan dengan tanda, yaitu positif  (+) dan negative (─).
Uji ini sangat baik apabila syarat-syarat berikut dipenuhi :
a.         Pasangan hasil pengamatan yang sedang dibandingkan bersifat independen
b.        Masing-masing pengamatan dalam tiap pasang terjadi karena pengaruh kondisi yang serupa
c.         Pasangan yang berlainan terjadi karena kondisi yang berbeda
Uji dilakukan pada 2 sampel terpisah (independen):
o    Tanda (+)   →   data pada sampel 1 >  pasangannya sampel 2
o    Tanda (–)  →   data pada sampel  1 <  pasangannya sampel 2
o    Tanda nol (0) →  data pada sampel  1 = pasangannya sampel 2
Tanda Nol tidak digunakan dalam perhitungan.
Notasi yang digunakan:
n = banyak tanda (+) dan tanda (˗) dalam sampel











SUKSES tergantung dari apa yang ditanyakan (ingin diuji) dalam soal.
·           Jika yang ingin diuji sampel 1  > sampel 2 maka SUKSES adalah banyak tanda (+)
·           Jika yang ingin diuji sampel 1 <  sampel 2  maka SUKSES adalah banyak tanda (–)
penetapan-penetapan H0 dan H1:
terdapat 3 alternatif H0 dan H1:
(a)      H0: p = p0 dan H1: p < p0 Uji 1 arah dengan daerah penolakan H0: z ≤ zα
(b)     H0: p = p0 dan H1: p > p0 Uji 1 arah dengan daerah penolakan H0: z > zα
(c)      H0: p = p0 dan H1: p ≠ p0 Uji 2 arah dengan daerah penolakan H0: z ≤ zα/2 dan z > zα/2

2.                Uji Wilcoxon (Rank Sum Test)
Uji ini merupakan perbaikan dari uji tanda yang dijelaskan dalam bagian yang lalu. Dalam uji Wilcoxon, bukan saja tanda yang diperhatikan tetapi juga nilai selisih (X − Y).
Caranya adalah sebagai berikut :
a.         Beri nomor urut untuk setiap harga mutlak selisih (Xi − Yi). Harga mutlak yang terkecil diberi nomor urut atau peringkat 1, harga mutlak selisih berikutnya diberi nomor urut 2, dan akhirnya harga mutlak terbesar diberi nomor urut n. Jika terdapat selisih yang harga mutlaknya sama besar, untuk nomor urut diambil rata-ratanya.
b.        Untuk nomor urut berikan pula tanda yang didapat dari selisih (X − Y)
c.         Hitunglah jumlah nomor urut yang bertanda positif  dan juga jumlah nomor urut yang bertanda negatif.
d.        Untuk jumlah nomor urut yang didapat di c, ambillah jumlah yang harga mutlaknya paling kecil. Sebutlah jumlah ini sama dengan J, jumlah J inilah yang dipakai untuk menguji hipotesis :
Ho  : tidak ada perbedaan pengaruh kedua perlakuan
H1   : terdapat perbedaan pengaruh kedua perlakuan

Notasi yang digunakan :
N1 = ukuran sampel ke 1
N2 = ukuran sampel ke 2
N1<n2 ukuran sampel ke 1 selalu lebih kecil dari sampel ke 2
W = jumlah peringkat pada sampel berukuran terkecil







Sumber:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar