Sabtu, 18 Oktober 2014

Kewirausahaan dan Wirausahawan

Kewirausahaan adalah padanan kata entrepreneurship dalam bahasa inggris, unternehmer dalam bahasan jerman, ondernemen dalam bahasa belanda. Kata kewirausahaan di Indonesia dari kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata rjemahkan dengan kata kewirausahaan. Entreprenenur berasal dari bahasa Perancis yang artinya memulai atau melaksanakan.
Kewirausahaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Ini baru dari segi etimologi (asal usul kata).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausaha adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya serta memasarkannya.
Kunci penting seorang wirausahawan adalah berpikir kreatif, inovatif, berani mengambil resiko dan tidak mudah putus asa. Selain itu seorang wirausaha dapat terlihat dari karakteristiknya. Karakteristik seorang wirausaha menurut menurut Mc Clelland yaitu sebagai berikut:
1.        Keinginan untuk berprestasi
2.        Keinginan untuk bertanggung jawab
3.        Preferensi kepada resiko-resiko menengah
4.        Persepsi kepada kemungkinan berhasil
5.        Rangsangan oleh umpan balik
6.        Aktivitas energik
7.        Orientasi ke masa depan
8.        Keterampilan dalam pengorganisasian
9.        Sikap terhadap uang
Karakteristik wirausahawan yang sukses dengan n Ach tinggi. N Ach tinggi yaitu dorongan untuk meraih sukses dalam hal ini sebagai wirausaha yaitu sebagai berikut :
1.        Kemampuan inovatif
2.        Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
3.        Keinginan untuk berprestasi
4.        Kemampuan perencanaan realistis
5.        Kepemimpinan terorientasi kepada tujuan
6.        Obyektivitas
7.        Tanggung jawab pribadi
8.        Kemampuan beradaptasi
9.        Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator
Seorang wirausaha hendaknya memiliki tujuan dalam pencapaian ekonomi untuk usaha yang akan dibangun. Tiga kebutuhan dasar yang mempengaruhi pencapaian tujuan ekonomi menurut Mc Clelland, yaitu:
1.        Kebutuhan untuk berprestasi (nAch)
n-ACH adalah motivasi untuk berprestasi, karena itu karyawan akan berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Contohnya, Karyawan perlu mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk reward terhadap usaha yang dilakukannya tersebut.
2.        Kebutuhan untuk berafiliasi (n Afi)
Kebutuhan untuk Berafiliasi atau Bersahabat (n-AFI). Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Contohnya Seorang yang memiliki keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain.
3.        Kebutuhan untuk berkuasa (n Pow)
Kebutuhan akan Kekuasaan (n-POW) Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain.Contohnya, seorang atasan ingin dapat mengendalikan dan mempengaruhi bawahannya, dimana para karyawannya berperilaku sesuai yang diinginkan oleh atasan tersebut.
Mengerti peluang usaha untuk seorang wirausaha sangat diperlukan namun perlu adanya identifikasi untuk mengetahui peluang usaha yang sedang berkembang. Sumber-sumber gagasan dalam identifikasi peluang usaha baru, yaitu:
1.        Kebutuhan akan sumber penemuan.
2.        Hobi atau kesenangan pribadi.
3.        Mengamati kecenderungan-kecenderungan.
4.        Mengamati kekurangan-kekurangan produk dan jasa yang ada.
5.        Kegunaan lain dari barang-barang biasa.
6.        Pemanfaat produk dari perusahaan lain.

Unsur-unsur analisa pulang pokok yaitu:
1.        Biaya tetap
2.        Biaya variabel
3.        Biaya total
4.        Pendapatan total
5.        Keuntungan
6.        Kerugian
7.        Titik pulang pokok

Pembagian dalam bentuk-bentuk kepemilikan diantaranya yaitu:
1.        Kepemilikan perseorangan, dimiliki dan dijalankan oleh 1 orang, sehingga laba yang diterima tidak perlu dibagi-bagi,
2.        Kepemilikan kongsi, dimiliki dan dijalankan oleh 2 orang atau lebih, kepemilikan bersama atas harta, umur perusahaan terbatas, adanya pembagian laba,
3.        Perusahaan perseroan, perusahaan yang memiliki badan hukum, kewajiban pemilik saham terbatas pada jumlah saham yang dimilikinya, kepemilikan perusahaan dapat berpindah tangan, eksistensi relatif stabil.

Dikutip dari:
http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2012-1-00386-MN%20Bab2001.pdf
http://fitrian.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13729/Kewirausahaan+berasal+dari+kata+wira+dan+usaha.doc
http://gabrielamarcelina.wordpress.com/2012/10/30/tugas-softskill-kewirausahaan-1/

Kewirausahaan dan Wirausahawan

Kewirausahaan adalah padanan kata entrepreneurship dalam bahasa inggris, unternehmer dalam bahasan jerman, ondernemen dalam bahasa belanda. Kata kewirausahaan di Indonesia dari kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata rjemahkan dengan kata kewirausahaan. Entreprenenur berasal dari bahasa Perancis yang artinya memulai atau melaksanakan.
Kewirausahaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Ini baru dari segi etimologi (asal usul kata).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausaha adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya serta memasarkannya.
Kunci penting seorang wirausahawan adalah berpikir kreatif, inovatif, berani mengambil resiko dan tidak mudah putus asa. Selain itu seorang wirausaha dapat terlihat dari karakteristiknya. Karakteristik seorang wirausaha menurut menurut Mc Clelland yaitu sebagai berikut:
1.        Keinginan untuk berprestasi
2.        Keinginan untuk bertanggung jawab
3.        Preferensi kepada resiko-resiko menengah
4.        Persepsi kepada kemungkinan berhasil
5.        Rangsangan oleh umpan balik
6.        Aktivitas energik
7.        Orientasi ke masa depan
8.        Keterampilan dalam pengorganisasian
9.        Sikap terhadap uang
Karakteristik wirausahawan yang sukses dengan n Ach tinggi. N Ach tinggi yaitu dorongan untuk meraih sukses dalam hal ini sebagai wirausaha yaitu sebagai berikut :
1.        Kemampuan inovatif
2.        Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
3.        Keinginan untuk berprestasi
4.        Kemampuan perencanaan realistis
5.        Kepemimpinan terorientasi kepada tujuan
6.        Obyektivitas
7.        Tanggung jawab pribadi
8.        Kemampuan beradaptasi
9.        Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator
Seorang wirausaha hendaknya memiliki tujuan dalam pencapaian ekonomi untuk usaha yang akan dibangun. Tiga kebutuhan dasar yang mempengaruhi pencapaian tujuan ekonomi menurut Mc Clelland, yaitu:
1.        Kebutuhan untuk berprestasi (nAch)
n-ACH adalah motivasi untuk berprestasi, karena itu karyawan akan berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Contohnya, Karyawan perlu mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk reward terhadap usaha yang dilakukannya tersebut.
2.        Kebutuhan untuk berafiliasi (n Afi)
Kebutuhan untuk Berafiliasi atau Bersahabat (n-AFI). Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Contohnya Seorang yang memiliki keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain.
3.        Kebutuhan untuk berkuasa (n Pow)
Kebutuhan akan Kekuasaan (n-POW) Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain.Contohnya, seorang atasan ingin dapat mengendalikan dan mempengaruhi bawahannya, dimana para karyawannya berperilaku sesuai yang diinginkan oleh atasan tersebut.
Mengerti peluang usaha untuk seorang wirausaha sangat diperlukan namun perlu adanya identifikasi untuk mengetahui peluang usaha yang sedang berkembang. Sumber-sumber gagasan dalam identifikasi peluang usaha baru, yaitu:
1.        Kebutuhan akan sumber penemuan.
2.        Hobi atau kesenangan pribadi.
3.        Mengamati kecenderungan-kecenderungan.
4.        Mengamati kekurangan-kekurangan produk dan jasa yang ada.
5.        Kegunaan lain dari barang-barang biasa.
6.        Pemanfaat produk dari perusahaan lain.

Unsur-unsur analisa pulang pokok yaitu:
1.        Biaya tetap
2.        Biaya variabel
3.        Biaya total
4.        Pendapatan total
5.        Keuntungan
6.        Kerugian
7.        Titik pulang pokok

Pembagian dalam bentuk-bentuk kepemilikan diantaranya yaitu:
1.        Kepemilikan perseorangan, dimiliki dan dijalankan oleh 1 orang, sehingga laba yang diterima tidak perlu dibagi-bagi,
2.        Kepemilikan kongsi, dimiliki dan dijalankan oleh 2 orang atau lebih, kepemilikan bersama atas harta, umur perusahaan terbatas, adanya pembagian laba,
3.        Perusahaan perseroan, perusahaan yang memiliki badan hukum, kewajiban pemilik saham terbatas pada jumlah saham yang dimilikinya, kepemilikan perusahaan dapat berpindah tangan, eksistensi relatif stabil.

Dikutip dari:
http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2012-1-00386-MN%20Bab2001.pdf
http://fitrian.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13729/Kewirausahaan+berasal+dari+kata+wira+dan+usaha.doc
http://gabrielamarcelina.wordpress.com/2012/10/30/tugas-softskill-kewirausahaan-1/

Kewirausahaan dan Wirausahawan

Kewirausahaan adalah padanan kata entrepreneurship dalam bahasa inggris, unternehmer dalam bahasan jerman, ondernemen dalam bahasa belanda. Kata kewirausahaan di Indonesia dari kata entrepreneurship yang dahulunya sering diterjemahkan dengan kata rjemahkan dengan kata kewirausahaan. Entreprenenur berasal dari bahasa Perancis yang artinya memulai atau melaksanakan.
Kewirausahaan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Ini baru dari segi etimologi (asal usul kata).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausaha adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk mengadakan produk baru, mengatur permodalan operasinya serta memasarkannya.
Kunci penting seorang wirausahawan adalah berpikir kreatif, inovatif, berani mengambil resiko dan tidak mudah putus asa. Selain itu seorang wirausaha dapat terlihat dari karakteristiknya. Karakteristik seorang wirausaha menurut menurut Mc Clelland yaitu sebagai berikut:
1.        Keinginan untuk berprestasi
2.        Keinginan untuk bertanggung jawab
3.        Preferensi kepada resiko-resiko menengah
4.        Persepsi kepada kemungkinan berhasil
5.        Rangsangan oleh umpan balik
6.        Aktivitas energik
7.        Orientasi ke masa depan
8.        Keterampilan dalam pengorganisasian
9.        Sikap terhadap uang
Karakteristik wirausahawan yang sukses dengan n Ach tinggi. N Ach tinggi yaitu dorongan untuk meraih sukses dalam hal ini sebagai wirausaha yaitu sebagai berikut :
1.        Kemampuan inovatif
2.        Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
3.        Keinginan untuk berprestasi
4.        Kemampuan perencanaan realistis
5.        Kepemimpinan terorientasi kepada tujuan
6.        Obyektivitas
7.        Tanggung jawab pribadi
8.        Kemampuan beradaptasi
9.        Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator
Seorang wirausaha hendaknya memiliki tujuan dalam pencapaian ekonomi untuk usaha yang akan dibangun. Tiga kebutuhan dasar yang mempengaruhi pencapaian tujuan ekonomi menurut Mc Clelland, yaitu:
1.        Kebutuhan untuk berprestasi (nAch)
n-ACH adalah motivasi untuk berprestasi, karena itu karyawan akan berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Contohnya, Karyawan perlu mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk reward terhadap usaha yang dilakukannya tersebut.
2.        Kebutuhan untuk berafiliasi (n Afi)
Kebutuhan untuk Berafiliasi atau Bersahabat (n-AFI). Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Contohnya Seorang yang memiliki keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain.
3.        Kebutuhan untuk berkuasa (n Pow)
Kebutuhan akan Kekuasaan (n-POW) Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain.Contohnya, seorang atasan ingin dapat mengendalikan dan mempengaruhi bawahannya, dimana para karyawannya berperilaku sesuai yang diinginkan oleh atasan tersebut.
Mengerti peluang usaha untuk seorang wirausaha sangat diperlukan namun perlu adanya identifikasi untuk mengetahui peluang usaha yang sedang berkembang. Sumber-sumber gagasan dalam identifikasi peluang usaha baru, yaitu:
1.        Kebutuhan akan sumber penemuan.
2.        Hobi atau kesenangan pribadi.
3.        Mengamati kecenderungan-kecenderungan.
4.        Mengamati kekurangan-kekurangan produk dan jasa yang ada.
5.        Kegunaan lain dari barang-barang biasa.
6.        Pemanfaat produk dari perusahaan lain.

Unsur-unsur analisa pulang pokok yaitu:
1.        Biaya tetap
2.        Biaya variabel
3.        Biaya total
4.        Pendapatan total
5.        Keuntungan
6.        Kerugian
7.        Titik pulang pokok

Pembagian dalam bentuk-bentuk kepemilikan diantaranya yaitu:
1.        Kepemilikan perseorangan, dimiliki dan dijalankan oleh 1 orang, sehingga laba yang diterima tidak perlu dibagi-bagi,
2.        Kepemilikan kongsi, dimiliki dan dijalankan oleh 2 orang atau lebih, kepemilikan bersama atas harta, umur perusahaan terbatas, adanya pembagian laba,
3.        Perusahaan perseroan, perusahaan yang memiliki badan hukum, kewajiban pemilik saham terbatas pada jumlah saham yang dimilikinya, kepemilikan perusahaan dapat berpindah tangan, eksistensi relatif stabil.

Dikutip dari:
http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/2012-1-00386-MN%20Bab2001.pdf
http://fitrian.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13729/Kewirausahaan+berasal+dari+kata+wira+dan+usaha.doc
http://gabrielamarcelina.wordpress.com/2012/10/30/tugas-softskill-kewirausahaan-1/

Minggu, 29 Juni 2014

Toksikologi Logam Berat

Bandung, Kompas – Sungai Citarum serta Waduk Saguling dan Cirata di 
Kabupaten Bandung saat ini tercemar logam berat. Jika tidak segera 
ditanggulangi, dikhawatirkan pencemaran logam berat akan berdampak pada 
kesehatan masyarakat karena daerah tersebut merupakan sentra budidaya ikan.

Demikian hasil penelitian Laboratorium Higiene Industri dan Taksikologi, 
Departemen Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), yang 
dipaparkan Katharina Oginawati dari laboratorium tersebut kepada wartawan, 
Rabu (11/6), di Bandung.

Waduk Saguling dan Cirata pencemaran logam berat seperti merkuri (Hg), 
tembaga (Cu), seng (Zn), dan timbal (Pb) sudah melampaui baku mutu. Kadar 
tembaga di Waduk Cirata 0,008 miligram per liter, padahal Peraturan 
Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 menetapkan 0,001 miligram per liter. 
Kandungan timbal juga 0,03 miligram per liter, tiga kali diatas standar.

Kondisi Waduk Saguling lebih buruk karena menjadi tempat pengendapan 
pertama Sungai Citarum. Kandungan merkuri (Hg) 30 kali di atas batas 
normal, 0,06 miligram per liter.


“Kalau sudah ada cemaran logam, ikan yang ada di situ juga mungkin
terkontaminasi melalui rantai makanan. Logam berat akan terakumulasi di
tubuh ikan yang akhirnya masuk tubuh manusia yang memakannya,” kata Katharina.
Adanya ikan yang tercemar logam berat berhasil dibuktikan dengan penelitian
ikan mas dan nila dari Waduk Cirata. Dalam daging ikan ditemukan kandungan
merkuri, tembaga dan seng dengan kadar yang cukup membahayakan. “Logam
berat itu terkonsentrasi di perut, lemak, dan daging ikan,”tambahnya.
Indah Rachmatyah, Peneliti dari Teknik Lingkungan ITB mengimbau agar
masyarakat berhati-hati mengonsumsi ikan air tawar. Hal ini karena
akumulasi logam berat di tubuh manusia dalam jangka panjang dapat
menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit minamata, bibir
sumbing, kerusakan susunan saraf, dan cacat pada bayi.
Menurut Indah, penyebab pencemaran adalah banyaknya industri di Bandung.
Khusus pencemaran merkuri mungkin karena ada penambangan emas seperti di
Soreang dan Pengalengan. Tujuh kawasan industri yang ada adalah Majalaya,
Banjaran, Rancaekek, Deyeuhkolot, Ujungberung, Cimahi, dan Padalarang.
Setiawan Wangsaatmaja, Kepala Bagian Pengendalian Kerusakan Lingkungan,
Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat mengatakan,
BPLHD telah berupaya mencegah pencemaran tersebut dengan berbagai cara.
Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0306/12/iptek/365759.htm

Selasa, 29 April 2014

Penduduk Mebludak, Pemungkiman Tak Permanen Dimana-Mana

Indonesia merupakan negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia. Jakarta merupakan ibu kota yang juga merupakan kota yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Jumlah penduduk di Jakarta pada tahun 2011 berdasarkan sensus penduduk, mencapai 9,6 juta jiwa dan sebanyak 2,5 juta jiwa warga luar Jakarta yang bekerja di Jakarta pada siang hari. Hal ini yang menyebabkan Jakarta menjadi kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara dan kota urutan yang kedua. Sedangkan luas Jakarta hanya sekitar 661,52 km2. Jika dilakukan perhitungan maka setiap orang di Jakarta hanya memiliki 68,9 m2 belum termasuk penduduk di luar Jakarta yang bekerja di Jakarta.
Jumlah penduduk di Jakarta masih terus bertambah dari adanya migrasi setiap arus balik mudik. Pertambahan penduduk setiap lebaran tercacat sebanyak kurang lebih 2100 jiwa untuk tiap tahunnya. Tak heran banyak tempat bukan pemungkiman dipaksa menjadi pemungkiman penduduk seperti kolong jembatan, bantalan kali dan lainnya. Hasil limbah rumah tangga dari pemungkiman dadakan ini akan terbuang di tempat bukan pembuangan limbah seharusnya. Akibatnya Jakarta menduduki peringkat ketiga terkotor di dunia menurut WHO.
Sebagai warga negara Indonesia, hal ini menjadi hal yang cukup memprihatinkan. Tinggal di kolong jembatan sebenarnya berbahaya dan tidak baik bagi kesehatan. Akan tetapi jumlah warga yang tinggal di kolong jembatan mencapai 2000 kepala keluarga. Hunian di kolong jembatan rawan terjadi kebakaran, bahkan dalam 1 tahun terdapat 2 kali kasus kebakaran di kolong jembatan. Selain itu nilai estetika pada kota Jakarta akan ikut menurun.
Pemerintah sebenarnya sudah melakukan antipasi pada penduduk yang tinggal di kolong jembatan. Sejak gurbenur DKI baru mulai menjabat, banyak rumah susun yang dibangun untuk warga dengan rumah non permanen untuk tempat tinggal. Akan tetapi sampai sekarang masih banyak saja jumlah warga yang tinggal di kolong jembatan. Seharusnya pemerintah lebih ketat lagi dalam melakukan inspeksi dan memberikan hukuman bagi warga yang melanggar. Kita tidak bisa semata-mata menyalahkan warga yang tetap tinggal di kolong jembatan. Jumlah penduduk yang semakin banyak dan tempat yang terbatas memaksa warga harus tinggal di tempat yang ada. Sehingga pemerintah DKI juga harus membatasi jumlah warga yang masuk ke DKI. Banyak warga Indonesia yang selalu beranggapan bahwa ibukota merupakan kota yang dapat menghasilkan pendapatan yang cukup menjanjikan. Sehingga jika pemerintah ingin membatasi jumlah penduduk yang masuk DKI, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan pemerataan fasilitas untuk seluruh kota di Indonesia sehingga tidak adanya penumpukan penduduk di satu kota.  Sehingga warga yang tinggal di kolong jembatan tidak ada lagi.

Sumber:  http://www.suarapembaruan.com
Sumber Gambar:http://www.antarafoto.com/peristiwa/v1350629129/realisasi-pemukiman-kampung-deret
id.celebrity.yahoo.com/foto/lima-juta-warga-jakarta-tinggal-di-permukiman-kumuh-1395677441-slideshow/permukiman-warga-di-kawasan-kolong-jembatan-jelambar-photo-1395677049289.html

Minggu, 30 Maret 2014

Opini terhadap Permasalahan Lingkungan

PEKANBARU - Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) menganggap kabut asap di Pekanbaru, Riau merupakan ulah sejumlah warga yang melakukan pembakaran lahan. "Tahun lalu terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kini terjadi lagi. Ini terjadi akibat ulah saudara-saudara kita melakukan pembakaran lahan. Mereka saudara-saudara kita warga Riau tidak menyadari bahwa akibat perbuatannya menyengsarakan warga lainnya," tegas Presiden SBY dalam teleconference dari Semarang dengan Satgas Penanggulangan Asap Riau di Mapolda Riau Jalan Sudirman, Pekanbaru, Jumat (14/3/2014).
Dalam pemaparannya, bahwa kebakaran bukan semata-mata kesalahan dari kondisi cuaca yang ekstrem sehingga mudah terbakar, tetapi warga Riau yang melakukan pembakaran lahan yang membuat bencana asap setiap tahunnya terjadi. Presiden menyatakan, Pemerintah Daerah Riau benar-benar gagal melakukan langkah pencegahan terhadap warganya yang membuka lahan dengan cara membakar. Jika ini terus terjadi, maka kata SBY bencana asap akan terus terjadi di Riau.
"Padahal di Riau kan ada pejabat, dari gubernur,wali kota, bupati, camat, kepala desa hingga lurah. Tapi mengapa langkah pencegahan tidak berjalan. Pembukaan lahan dengan cara dibakar terus terjadi," sebut SBY. Walau memberikan penjelasan dengan panjang lebar dalam teleconference, namun Presiden dalam pemaparanya tidak sedikitpun menyinggung pihak perusahaan yang juga turut andil dalam menyumbang asap di Riau.
Padahal sebelumnya Satgas Daurat Asap Riau menyebut sejumlah perusahaan yang bergerak dalam Hutan Tanaman Industri seperti PT Arara Abadi grub Sinar Mas Forestry, PT Sumatera Riang Lestari (SRL), PT Ruas Utama Jaya terindikasi kuat melakukan pembakaran lahannya. Bahkan satu perusahaan lainnya yakni PT Nasional Sagu Prima (NSP) telah ditetapkan sebagai tersangka.

Berita dikutip dari:


“Menurut saya sebaiknya perlu dilakukan tindakan tegas dalam kasus pembakaran lahan untuk membuka lahan baru. Setiap pejabat daerah pekanbaru baik itu dari lurah sampai gubernur seharusnya memberikan peraturan tegas, disertai dengan hukuman yang sesuai bagi oknum pembakar lahan yang ingin membuka lahan namun merugikan orang banyak. Seperti apa yang diucapkan oleh bapa k presiden "Tahun lalu terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kini terjadi lagi. Ini terjadi akibat ulah saudara-saudara kita melakukan pembakaran lahan. Mereka saudara-saudara kita warga Riau tidak menyadari bahwa akibat perbuatannya menyengsarakan warga lainnya," perlu juga adanya kesadaran dari setiap warga untuk memahami dampak dari dilakukannya pembakaran lahan. Menumbuhkan kesadaran warga dapat dilakukan dengan diadakannya penyuluhan akan dampak dari membuka lahan dengan cara membakar lahan tersebut. Penyuluhan dilakukan secara berkala dan disampaikan dengan cara yang menarik agar warga mau menjalankan apa yang telah diinformasikan tentang pembakaran lahan. Perusahaan yang terkait dalam pembakaran lahan tersebut juga sebaiknya bertanggung jawab atas kebakaran lahan yang menimbulkan kabut asap sehingga merugikan warga sekitar. Perusahaan-perusahaan tersebut sebaiknya ditindak  tegas apabila tidak mematuhi peraturan, seperti sanksi dicabutnya izin usaha.”